![]() |
| Adilah Nur Amaliya, Aqib Syauqi Azizi, Silmi Kaaffah, Firyal Luthfitah, Maula Daniel Syach, Bagas Hartanto, Mardiansyah Wijaya, Uswatun Hasanah |
Bekasi - Di lingkungan kampus, BEM dipandang sebagai representasi mahasiswa sebagai wadah untuk menyampaikan aspirasi, mengembangkan ide, dan merancang program yang bermanfaat. Namun, realitas yang terlihat saat ini menunjukkan bahwa tidak semua mahasiswa merasa dekat dengan BEM. Kegiatan memang berjalan, publikasi dibuat, tetapi partisipasi mahasiswa kadang masih rendah. Bahkan di dalam kepengurusan sendiri, beberapa anggota belum sepenuhnya aktif. Kondisi ini menunjukkan bahwa BEM tidak hanya dituntut membuat program, tetapi juga mampu membangun kedekatan, rasa memiliki, dan komunikasi yang hidup baik secara internal maupun eksternal.
Jika dilihat lebih dalam, rendahnya partisipasi sering muncul karena kegiatan yang ada belum sepenuhnya mengenai kebutuhan mahasiswa. Banyak mahasiswa menilai acara BEM bagus, tetapi belum memberikan manfaat yang langsung terasa misalnya terkait akademik, pengembangan soft skill, beasiswa, atau wadah diskusi. Di sisi lain, kesibukan kuliah, tugas, magang, hingga pekerjaan paruh waktu juga membuat mereka berpikir dua kali untuk terlibat. Faktor internal pun tidak bisa diabaikan. Ketika pembagian tugas kurang jelas, komunikasi belum solid, atau suasana organisasi kurang suportif, sebagian pengurus bisa kehilangan semangat dan akhirnya kurang aktif.
Untuk menjawab tantangan tersebut, BEM Kammalah perlu bergerak dengan pendekatan yang lebih realistis dan berbasis data. Survei atau polling kebutuhan mahasiswa bisa menjadi langkah awal yang sederhana namun efektif. Dari hasil tersebut, BEM dapat menyusun program yang benar-benar relevan dengan kondisi lapangan. Misalnya, kelas pelatihan keterampilan, ruang belajar bersama, program kesehatan mental, hingga kegiatan sosial yang dekat dengan mahasiswa. Ketika kegiatan dirancang sesuai kebutuhan mereka, keterlibatan akan tumbuh lebih alami.
Selain itu, internal organisasi perlu diperkuat. Setiap anggota BEM perlu memahami peran dan tanggung jawabnya dengan jelas. Rapat bukan sekadar formalitas, tetapi ruang diskusi dan evaluasi. Upgrading, bonding, hingga kegiatan internal ringan dapat membantu membangun kebersamaan dan motivasi. Lingkungan kerja yang sehat akan membuat setiap pengurus bergerak dengan kesadaran, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.
Jika internal sudah solid dan program berjalan relevan, barulah publikasi ke mahasiswa akan lebih efektif. Konten tidak selalu harus formal tapi bisa dikemas lebih kreatif dan dekat dengan keseharian mahasiswa. Misalnya, edukasi ringan, tips kampus, atau konten interaktif yang membuat mahasiswa merasa dilibatkan. Ketika hubungan emosional mulai terbentuk, partisipasi akan meningkat seiring waktu.
Pada akhirnya, memperkuat peran perubahan bukan soal seberapa sering BEM membuat acara, tetapi seberapa nyata manfaatnya bagi mahasiswa. BEM Kammalah berpeluang besar menjadi motor perubahan di kampus sebagai wadah kolaborasi, ruang belajar, dan rumah aspirasi. Perubahan besar memang tidak instan, tetapi dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten dan berdasarkan kebutuhan mahasiswa. (nik)


0 Komentar