Penabekasi.id, Kota Bekasi - Dari Ahmad Mustopa Kamal (Ketua Umum HMI Cabang Bekasi - Mahasiswa Pascasarjana FISIP Universitas Padjadjaran)


Kepada yang Terhormat,
Bapak Presiden Republik Indonesia
Bapak H. Ir. Joko Widodo


Assalamualaikum wR wB.

Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT. Atas segala nikmat dan karunia yang diberikan kepada kita semua. Semoga Bapak Presiden selalu dilindungi Allah SWT dalam menjalankan tugas Negara dan menjalankan amanah rakyat Indonesia. Ammmin, YRA.


Bapak Presiden saya mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H. mohon maaf lahir dan batin. Ditengah menyambut hari raya Idul Fitri juga ditengah Pandemi Bapak Presiden harus tetap beraktivitas dalam menjalankan tugas Negara, mudah-mudahan jiwa dan raga Bapak Presiden tetap sehat demi menjalankan amanah besar dari rakyat Indonesia.



Bapak Presiden, kami tahu bahwa tantangan Bangsa Indonesia semakin berat dan kompleks tentu juga menjadi beban berat yang harus dipikul oleh Bapak Presiden sebagai Kepala Negara. 



Bapak Presiden dan Tim Pembantu harus berfikir keras untuk mengatur strategi agar tantangan tersebut dapat dipecahkan titik permasalahannya melalui kewenangan yang Bapak miliki. 



Tantangan Negara yang sedang dihadapi sekarang ini yaitu soal Pandemi ancaman kesehatan manusia karenanya  mengakibatkan luluh-lantahnya aktivitas masyarakat yang berdampak kepada sektor Ekonomi, Sosial, Politik dan Agama. Satu langkah saja Bapak Presiden salah menginjak posisi dalam mengambil kebijakan tentu respon publik akan cepat bereaksi, apa lagi dengan kemajuan teknologi informasi. Kita tahu begitu cepat informasi tersebar luas dimasyarakat. Maka ketelitian dan ketepatan dalam mengambil kebijakan menjadi pertimbangan utama Bapak Presiden. 



Bapak Presiden tentu saya menghargai dan mengapresiasi karya dan kinerja Bapak selama menjadi Presiden Republik Indonesia. Waktu luang Bapak tersita habis untuk Bangsa dan Negara Indonesia. Sampai ibunda tercinta Wafat. Dimana suasana kondisi sedang berduka. Esoknya hari Bapak Presiden kembali beraktivitas. Semoga pengabdian Bapak Presiden menjadi catatan amalan Baik disisi Allah SWT. Ammmin, YRA. 



Bapak Presiden, saya mengikuti perkembangan dan fenomena yang berkembang ditengah masyarakat dalam menghadapi Pandemi Covid19. Bapak Presiden harus akui bahwa ada kelemahan dalam mengatasi covid19 ini. Baik dari aspek pencegahan, penanganan bahkan dalam membantu masyarakat yang terdampak dari covid19.
Distribusi bantuan sosial di berbagai daerah mengalami kesemrawutan. Harus di akui Koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah sangat lemah. Antara instansi terkait dalam menangani Pandemi ini juga lemah. Banyak keputusan-keputusan yang membingungkan masyarakat. Tentunya Bapak Presiden harus akui itu.



Dengan dinamika yang terjadi ditengah masyarakat tentang wabah penyakit yang dihadapi tentu saran dan kritik yang berkembang dimasyarakat kiranya harus menjadi energi positif dalam keberlangsungan roda pemerintahan yang Bapak Presiden pimpin. 



Ditengah Pandemi Covid19 ini berdampak  keberbagai sektor diantaranya sektor Ekonomi, Sosial, Politik dan Agama yang tadi diawal saya sampaikan. Karena hal ini berkaitan dengan hajat hidup orang banyak.



Misal dalam aspek Ekonomi, kita tahu bahwa selama Pandemi Covid19 ini belum berakhir beberapa jenis pelaku usaha yang gulung tikar, sektor industri, pariwisata, moda transportasi (terutama transportasi darat), juga ikut terdampak, banyak karyawannya di (berhentikan, dirumahkan, putus kontrak, dll), banyak UMKM tutup tak lagi punya penghasilan normal. Warteg-warteg, warung kopi dan sejenisnya di kota-kota besar termasuk di Bekasi tutup akibat pemberlakuan PSBB. Saya yakin soal ini, Bapak Presiden banyak terima kritikan dari kalangan masyarakat. Sabar Pak, Sabar! Jangan gunakan kekuasaan untuk menangkap orang-orang yang mengkritisi kebijakan Bapak. Ini menjadi tantangan Bapak dan Tim Pembantu agar roda perekonomian pulih kembali. 



Sisi lainnya dalam aspek sosial, aktivitas masyarakat dengan sementara waktu dikurangi. Masyarakat dihimbau untuk tetap beraktivitas di dalam rumah yang sering dikampanyekan. Kemudian yang fenomenal dalam aspek sosial mungkin soal Mudik. Masyarakat ramai bicara soal mudik yang memang menjadi tradisi masyarakat muslim ketika bulan puasa berkahir. Namun ada anjuran dari pemerintah agar tidak melakukan Mudik. Banyak spekulasi juga oleh pemerintah tetang Mudik yang  membingungkan masyarakat. Tentu ini kelemahan, Bapak Presiden.



Ditengah Pandemi menjadi ancaman juga bagi keberlangsungan Pendidikan. Selama Pandemi, pelajar tidak bisa sekolah normal, melainkan harus belajar melalui televisi atau secara online. Mekanisme itu belum bisa diakses oleh seluruh pelajar Indonesia karena banyak hal yang mempengaruhi hal tersebut, misal jangkauan internet yang kurang bisa di akses, tidak ada televisi tidak smartphone dll. Itu terjadi dimasyarakat kita Bapak Presiden. 



Tidak berhenti dalam fenomena itu, pembagian sembako atau bantuan sosial di masyarakat terjadi banyak polemik. Pada saat pendistribusian desak-desakan banyak orang berkerumunan, selain itu banyak juga data yang tidak akurat (warga yang sudah meninggal, warga yang sudah pindah alamat namun masih terdata) tentu ini semua masalah Bapak Presiden harus diakui. Saya yakin dalam aspek sosial, Bapak Presiden banyak terima kritikan dari kalangan masyarakat. Sabar Bapak Presiden, Sabar! Jangan gunakan kekuasaan untuk menangkap orang-orang yang mengkritisi kebijakan Bapak. Ini menjadi tantangan Bapak Presiden dan Tim Pembantu. 



Tak kalah pentingnya dalam perhatian pada aspek keberlangsungan Agama, saya yakin masyarakat Indonesia yang beragama menganut keyakinan Tuhan yang maha Esa. Sangat rindu untuk bisa beribadah  ditempat-tempat Ibadah. Tidak hanya Mall dan tempat transportasi yang Bapak kunjungi untuk melihat kesiapan adaptasi roda perekonomian. Tetapi tempat-tempat ibadah kiranya Bapak bisa kunjungi karena aspek spiritual bagi keberlangsungan hidup manusia juga aspek penting. Karena kita masyarakat yang beragama. Bukan masyarakat Ateis. Saya yakin Bapak Presiden banyak terima kritikan dari kalangan masyarakat soal keberlangsungan Agama. Sabar Bapak Presiden, Sabar! Bukankah Rasulullah S.A.W. dalam menjalankan dakwahnya mengalami banyak tantangan? 



Dalam aspek Politik, tentu banyak orang yang tidak sependapat dengan kebijakan Pemerintah yang dipimpin oleh Bapak Presiden, termasuk kami dikalangan Mahasiswa yang sering unjuk rasa.  Bagaimana tidak untuk mengkritisi kinerja dan kebijakan, ditengah Pandemi saja pemerintah bersama DPR menaikkan BPJS, mengesahkan berbagai RUU yang masih berpolemik di masyarakat, Mahasiswa dan akademisi mau diskusi dan menjadi aktivitas ilmiah dikalangan mahasiswa, anak buah Bapak mengintervensi atas kegiatan tersebut. Sehingga pihak  kampuspun merasa ketakutan. 



Seolah-olah Bapak Presiden dan Tim ketakutan kehilangan legitimasi politik dari rakyat Indonesia. Saya kira sepanjang masih ranah ilmiah Bapak Presiden dan Tim tak usah intervensi sejauh itu. Toh diskusi itu sangat terbuka untuk siapapun. Termasuk Bapak Presiden jika ada waktu bisa menyimak. Sabar Bapak Presiden, Sabar! Jangan gunakan kekuasaan untuk menangkap orang-orang yang mengkritisi kebijakan Bapak dan Tim. Jika demikian Orang banyak ketakutan pada saat mengekspresikan dan mengkritisi kebijakan Bapak Presiden dan Tim. Padahal itu bisa menjadi energi positif dalam keberlangsungan roda pemerintahan. 



Mungkin saja Bapak Presiden tidak tahu soal diskusi virtual yang diintervensi oleh anak buah Bapak. Tidak hanya diintervensi bahkan diteror. Sungguh Kami sangat menyayangkan atas peristiwa tersebut. Aktivitas kajian dan diskusi yang masih ranah ilmiah itu merupakan warna  indentitas tersendiri bagi kalangan  Mahasiswa apa lagi Mahasiswa yang aktif diberbagai organisasi baik internal maupun eksternal kampus. Dimana letak nama mahasiswa kalau diskusi dan kajian tidak menjadi bagian dari benang almamater  kampus? Membangun nalar berfikir yang konstruktif harus diasah melalui kajian dan diskusi, tidak bisa hanya baca buku saja. Kita harus berekspresi menata nalar dan berkomunikasi serta gaya kepemimpinan diruang diskusi berbasis ilmiah sebagai insan akademis. Bukankah ini hal yang positif Bapak Presiden? Jangan gunakan kekuasaan untuk menangkap orang-orang yang mengkritisi, berekspresi dan menilai kebijakan Bapak Presiden. Kebijaksanaan dalam memimpin pemerintahan sungguh amat dibutuhkan. Mudah-mudahan ini tidak terulang kembali. 



Terkahir saya mau sampaikan bahwa Pandemi Covid19 telah menguras tenaga, pikiran dan materi tidak hanya untuk penyelenggara pemerintahan saja tetapi juga masyarakat Indonesia yang terkena dampak wabah ini. Banyak masyarakat yang kehilangan mata pencaharian sedangkan hidup harus berlangsung. Apakah Bapak Presiden melihat itu? Tantangan hidup masyarakat semakin berat, banyak persoalan baru setelah ada dampak wabah ini. Mereka hanya punya harapan kepada Tuhan melalui kebijakan Pemerintah. Karena pada saat pemilu masyarakat terlibat aktif atas legitimasi yang mereka miliki untuk memilih, termasuk mandat yang Bapak miliki. Harus diketahui pada saat memilih tidak hanya mereka yang sehat, tetapi mereka yang sedang sakit atau pemilih disabilitas ikut memilih mereka berjuang ditengah keterbatasan kesehatan dan keterbatasan fisik untuk tetap datang ke ruang TPS untuk melegitimasi pemimpinnya. Mudah-mudahan ini bisa merefleksikan dikala kampanye pemilu yang diikuti oleh Bapak Presiden tahun lalu.



Sekali lagi bahwa kritikan, berekspresi dan menilai kebijakan Pemerintah merupakan sirkulasi iklim pemerintahan. Presiden tidak boleh memusuhi tidak boleh intervensi. Hal demikian menjadi warna dinamika dan kami Yakin itu resiko yang Bapak Presiden ketahui. (Sit/Kam)