Catatan Kritis dari PC PERGUNU Kota Bekasi untuk Kemenag RI

Oleh: PC PERGUNU Kota Bekasi Bidang Komunikasi & Teknologi Digital

Migrasi layanan guru dari SIMPATIKA ke EMIS GTK adalah niat baik. Tujuannya satu: integrasi data agar guru madrasah tidak lagi disibukkan dengan dua aplikasi berbeda. Niatnya mulia. Tapi di lapangan, niat baik itu berubah menjadi mimpi buruk bagi guru.

Yang terjadi hari ini bukanlah migrasi data, tapi migrasi masalah.

1. Sistem Belum Siap, Guru Dipaksa Siap

Di SIMPATIKA, alurnya sudah jelas. Guru Ajar, Verval, Ajuan NPK, SKAKPT, Tunjangan. Semua guru sudah hafal di luar kepala.

Tiba-tiba di EMIS GTK, semua berubah. Menu berantakan, server sering down, data tidak sinkron, riwayat mengajar hilang, NPK tidak terbaca, jam linieritas tidak muncul.

Ketika guru bertanya, jawaban operator madrasah dan admin Kota/Kabupaten pun sama: "Belum tahu, sistem pusat masih error. Coba lagi besok."

Guru yang tunjangannya menggantung di bulan ini, harus menunggu sistem yang "coba lagi besok" setiap hari.

2. Operator Pusing, Guru Lebih Pusing

Ini yang paling menyakitkan. Tidak semua operator madrasah siap.

Banyak operator yang jujur mengatakan belum paham EMIS GTK. Wajar, karena sosialisasinya minim, juknisnya terlambat, Bimteknya hanya di Zoom 2 jam. Mereka pun belajar sambil jalan.

Tapi yang tidak wajar adalah, ketika ketidaktahuan itu berubah menjadi sikap.

  • Banyak kasus yang kami temukan di lapangan:Guru bertanya baik-baik, dijawab dengan ketus: "Jangan tanya saya terus, saya juga pusing!
  • Guru minta dibantu verval, malah dipersulit karena persoalan pribadi. Ada sentimen karena guru sering terlambat setor berkas, atau karena beda organisasi
  • Data guru sengaja di-pending, tidak segera di-approve, dengan alasan klasik: "Kepala belum tanda tangan." Padahal kepala sudah tanda tangan 3 hari lalu.
  • Grup WhatsApp operator menjadi ajang curhat kekuasaan, bukan pelayanan.

Kami paham, kerja operator sangat berat dan honornya tidak seberapa. Kami sangat menghormati operator. Tapi tolong, jangan jadikan guru sebagai pelampiasan lelahnya sistem.

Jabatan operator adalah jabatan pelayanan, bukan jabatan kekuasaan.

Satu klik Anda, nasib tunjangan seorang guru dan makan anak istrinya di rumah bisa tertunda sebulan.

3. Apa yang Harus Dibenahi?

Kami dari PC PERGUNU Kota Bekasi tidak hanya mengeluh, kami memberi solusi:

Untuk Kemenag Pusat:

Hentikan dulu sistem kejar tayang. Buat masa transisi yang jelas. Jangan matikan SIMPATIKA total sebelum EMIS GTK benar-benar 100% stabil. Buatkan juknis tertulis yang satu pintu, bukan informasi potongan-potongan dari grup WhatsApp.

Untuk Kemenag Kota/Kabupaten:

Gelar Bimtek luring yang serius untuk operator madrasah, bukan sekadar Zoom. Angkat operator sebagai tenaga profesional dengan honor yang layak, agar mereka bekerja dengan hati, bukan dengan beban.

Untuk Kepala Madrasah dan Operator:

Mari kita ingat kembali khittah kita. Guru dan operator adalah satu tim. Guru tidak bisa cair tanpa operator, operator tidak ada artinya tanpa guru. Hilangkan sentimen pribadi. Jika ada guru yang sulit, bina dengan aturan, jangan dengan mempersulit datanya.

Penutup

Migrasi SIMPATIKA ke EMIS jangan sampai menjadi migrasi penghapusan hak guru.

Kami hanya ingin satu: Data kami dikelola dengan sistem yang jelas, oleh orang yang paham dan melayani dengan ikhlas.

Hormati Guru, Maka Sistem Akan Berkah.