BEKASI – Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kota Bekasi 2026, dinamika internal partai berlambang pohon beringin mulai menghangat. Sejumlah nama disebut masuk dalam bursa calon Ketua DPD Partai Golkar Kota Bekasi, sementara konsolidasi di tingkat kader terus berjalan.

Di tengah dinamika tersebut, kiprah alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang kini berkiprah di tubuh Partai Golkar kembali menjadi perhatian.

Keberadaan tokoh-tokoh yang memiliki latar belakang sebagai alumni HMI dinilai dapat menjadi salah satu energi pembaruan untuk memperkuat konsolidasi, kaderisasi, sekaligus mengembalikan kedekatan partai dengan masyarakat Kota Bekasi.

Wacana tersebut mencuat seiring semakin dekatnya agenda Musda yang menjadi forum penting untuk menentukan arah kepemimpinan Partai Golkar Kota Bekasi ke depan.

Sekretaris DPD Partai Golkar Kota Bekasi, Uri Huryati, sebelumnya menyampaikan bahwa pelaksanaan Musda masih dalam tahap persiapan. Waktu pelaksanaan belum ditentukan secara pasti, namun agenda tersebut tetap akan dilaksanakan sebagai bagian dari mekanisme organisasi.

Alumni HMI Dinilai Punya Modal Organisasi

Dalam dinamika Musda, sejumlah tokoh yang merupakan alumni HMI dan kini berada di lingkungan Partai Golkar dinilai memiliki modal pengalaman organisasi serta jaringan yang dapat dikontribusikan dalam proses konsolidasi partai.

Salah satu kader Golkar yang juga merupakan alumni HMI, Iday Tarsono, sebelumnya menegaskan pentingnya soliditas alumni HMI yang berada di dalam tubuh Partai Golkar.

Menurut Iday, alumni HMI di Golkar harus ikut menyukseskan Musda sekaligus tetap mengawal kepentingan masyarakat Kota Bekasi.

"Alumni HMI yang berada di dalam Golkar harus solid dalam menyukseskan Musda. Tetapi yang tidak kalah penting, kita juga harus tetap mengawal kepentingan masyarakat Kota Bekasi."

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan alumni HMI di Partai Golkar tidak semata-mata diarahkan pada kepentingan kontestasi internal, tetapi juga pada bagaimana partai mampu memperkuat fungsi politiknya di tengah masyarakat.

Pembaruan Golkar Lewat Gagasan dan Konsolidasi

Istilah "menyelamatkan Partai Golkar Kota Bekasi" belakangan muncul dalam perbincangan sejumlah kalangan yang melihat Musda sebagai momentum penting untuk melakukan pembenahan organisasi.

Penyelamatan tersebut tidak harus dimaknai sebagai upaya mengambil alih kepemimpinan partai.

Sebaliknya, para alumni HMI yang kini berkiprah di Partai Golkar dapat mengambil peran melalui penguatan gagasan, kaderisasi internal partai, konsolidasi akar rumput, serta membangun komunikasi politik yang lebih terbuka dengan berbagai elemen masyarakat.

Pengalaman organisasi yang dimiliki banyak alumni HMI dipandang dapat menjadi modal untuk memperkaya gagasan di tubuh Partai Golkar.

Terlebih, dinamika Musda kali ini mulai diwarnai munculnya sejumlah nama yang disebut berpotensi mengikuti kontestasi Ketua DPD Partai Golkar Kota Bekasi periode mendatang. Radar Bekasi melaporkan sejumlah nama yang mulai muncul antara lain Ade Puspitasari, Ranny Fahd A Rafiq, Nofel Saleh Hilabi, dan Faisal, meskipun proses resmi pencalonan masih menjadi bagian dari tahapan Musda. 

Musda Jangan Berakhir pada Perebutan Kursi

Musda sejatinya bukan hanya persoalan siapa yang akan menjadi ketua. Forum tersebut juga menjadi ruang untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus merumuskan arah Partai Golkar Kota Bekasi ke depan.

Karena itu, tokoh-tokoh yang memiliki pengalaman organisasi, termasuk mereka yang merupakan alumni HMI dan kini berada di Partai Golkar, diharapkan dapat memberikan kontribusi substantif dengan membawa semangat intelektual, profesionalisme, serta tradisi pengabdian kepada masyarakat.

Musda juga diharapkan berlangsung secara demokratis dan tetap mengedepankan mekanisme organisasi.

Persaingan dalam menentukan kepemimpinan merupakan bagian dari dinamika organisasi, tetapi hasil akhirnya diharapkan mampu memperkuat soliditas dan tidak meninggalkan persoalan baru di internal partai.

Momentum Menentukan Arah Baru

Dengan semakin dekatnya pelaksanaan Musda, seluruh elemen Partai Golkar Kota Bekasi kini memiliki kesempatan untuk menentukan arah organisasi untuk periode mendatang.

Para alumni HMI yang kini berkiprah di tubuh Partai Golkar pun memiliki ruang untuk menunjukkan kontribusinya sebagai bagian dari dinamika kader di partai.

Jika mampu membangun konsolidasi dan menawarkan gagasan yang konkret, mereka bukan sekadar menjadi bagian dari sejarah panjang perjalanan Golkar, tetapi juga dapat menjadi salah satu kekuatan yang mendorong pembaruan Partai Golkar Kota Bekasi.

Pada akhirnya, "menyelamatkan" Golkar bukan hanya tentang siapa yang duduk di kursi ketua, melainkan tentang bagaimana organisasi tersebut mampu memperkuat kaderisasi, menjaga soliditas, merawat demokrasi internal, dan kembali menghadirkan kerja politik yang dirasakan masyarakat Kota Bekasi.

Musda 2026 pun menjadi momentum penting untuk menjawab pertanyaan tersebut.

SMN