BEKASI – SMA Islam Teratai Putih Global terus mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang bersih dan ramah lingkungan melalui program pengelolaan sampah organik yang dikenal dengan sebutan Bank Pori.

Program tersebut menjadi salah satu upaya sekolah dalam mengelola sampah sekaligus mengajak seluruh warga sekolah untuk memiliki kebiasaan memilah sampah organik dan anorganik. Program ini melibatkan seluruh keluarga besar SMA Islam Teratai Putih Global, mulai dari guru, karyawan hingga siswa.

Pembina OSIS SMA Islam Teratai Putih Global, Zain, mengatakan Bank Pori merupakan bagian dari upaya sekolah mengelola sampah secara berkelanjutan. Pelaksanaannya dilakukan setiap hari dengan memanfaatkan area khusus di belakang kantin sekolah.

Di lokasi tersebut terdapat lubang yang telah dicor dan digunakan sebagai tempat penampungan sampah organik. Sampah yang terkumpul selanjutnya akan diproses dan dimanfaatkan menjadi pupuk untuk tanaman yang berada di lingkungan sekolah.

"Tujuan yang paling utama adalah sekolah kita sedang berproses menjadi sekolah yang ramah lingkungan bagi siswa-siswi, dengan cara memilah sampah organik dan anorganik lalu memanfaatkannya menjadi pupuk untuk tanaman," ujar Zain.

Ia menjelaskan, proses pengelolaan dimulai dari pemilahan sampah. Sampah organik yang terkumpul kemudian ditimbun menggunakan tanah hingga melalui proses penguraian. Hasil pengolahan tersebut nantinya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk untuk tanaman, baik bunga maupun pepohonan di lingkungan sekolah.

Program tersebut dinilai semakin relevan diterapkan karena SMA Islam Teratai Putih Global memiliki puluhan hingga ratusan pohon yang tersebar di sejumlah area sekolah. Keberadaan tanaman tersebut sekaligus menjadi bagian dari pemanfaatan hasil pengolahan sampah organik.

Sementara itu, salah seorang siswa kelas XII IPA 2, Azam, menilai program Bank Pori memberikan manfaat positif terhadap lingkungan sekolah. Menurutnya, pengelolaan sampah organik dapat mengurangi penumpukan sampah sekaligus menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan.

"Program ini menyasar semua pihak, termasuk siswa-siswi, agar lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan," kata Azam.

Azam menjelaskan, sampah yang telah terkumpul selanjutnya diserahkan kepada pihak yang bertanggung jawab untuk diolah. Selain dimanfaatkan menjadi pupuk, sampah organik juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan lain, termasuk pakan ternak sesuai dengan jenis dan pengolahannya.

Menurutnya, keberadaan tempat khusus untuk pengelolaan sampah juga memudahkan siswa dalam melakukan pemilahan. Lokasi pengolahan ditempatkan di area yang tidak mengganggu aktivitas publik sekolah, sehingga program dapat berjalan secara lebih tertata.

"Sekolah mengadakan program ini untuk mengurangi sampah di lingkungan sekolah dan menjaga lingkungan agar lebih sehat lagi," ujar Azam.

Ia menambahkan, pengelolaan sampah penting dilakukan secara rutin. Sebab, sampah yang dibiarkan menumpuk tanpa pengelolaan dapat mengundang hama dan berpotensi menimbulkan masalah kesehatan maupun mengganggu kebersihan lingkungan sekolah.

Melalui program Bank Pori, SMA Islam Teratai Putih Global berharap kebiasaan memilah dan mengelola sampah dapat tumbuh sejak dini di kalangan siswa. Upaya tersebut diharapkan mampu mendukung terciptanya lingkungan belajar yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. (Nik)