Oleh: Najla Chairun Nisa

Perkembangan media sosial dalam satu dekade terakhir telah mengubah cara manusia berinteraksi dan menilai kehidupan. Di tengah kemudahan akses informasi tersebut, muncul fenomena psikologis yang semakin menguat: Fear of Missing Out (FOMO), yaitu kecemasan ketika seseorang merasa tertinggal dari pengalaman sosial orang lain yang tampak lebih menarik di ruang digital.

FOMO tidak lagi sekadar istilah populer, melainkan telah menjadi bagian dari dinamika psikologis masyarakat digital. Media sosial yang berbasis kurasi membuat pengguna hanya melihat potongan terbaik dari kehidupan orang lain. Kondisi ini secara tidak langsung membentuk standar kehidupan baru yang tidak selalu realistis, tetapi justru menjadi acuan dalam menilai diri sendiri.

Data We Are Social (Digital 2025) menunjukkan bahwa pengguna internet global menghabiskan rata-rata lebih dari 3 jam per hari di media sosial. Di Indonesia, angka ini menempatkan ruang digital sebagai salah satu ruang aktivitas utama, khususnya pada kelompok usia muda. Artinya, sebagian besar proses pembentukan persepsi sosial kini terjadi di layar, bukan dalam interaksi langsung.

Masalah utama dari FOMO bukan hanya pada intensitas penggunaan, tetapi pada cara manusia memaknai apa yang mereka lihat. Media sosial memperkuat kecenderungan social comparison, yaitu kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. American Psychological Association (APA) mencatat bahwa perbandingan sosial ke atas (upward comparison) di media digital berkorelasi dengan penurunan kepuasan diri dan meningkatnya kecemasan, terutama pada pengguna aktif media sosial.

Dalam kondisi ini, individu membandingkan kehidupan sehari-hari yang penuh keterbatasan dengan momen terbaik orang lain yang telah dikurasi. Ketidakseimbangan persepsi inilah yang memicu rasa tertinggal, bahkan ketika secara objektif tidak ada yang benar-benar hilang dalam kehidupan mereka.

FOMO juga diperkuat oleh cara kerja platform digital. Algoritma media sosial dirancang untuk meningkatkan keterlibatan pengguna (engagement), sehingga konten yang ditampilkan cenderung bersifat emosional, menarik, atau ideal. Akibatnya, pengguna terus-menerus terpapar pada representasi kehidupan yang “sempurna”, bukan realitas utuh. Situasi ini menciptakan ilusi sosial bahwa kehidupan orang lain selalu lebih baik, lebih produktif, dan lebih bermakna.

Dari sisi psikologis, kondisi ini memicu beban mental yang tidak selalu disadari. Paparan informasi yang terus-menerus membuat otak berada dalam keadaan siaga (hyper-awareness). Hal ini dapat berdampak pada meningkatnya kecemasan, gangguan konsentrasi, hingga kualitas tidur yang menurun. WHO mencatat bahwa dalam beberapa tahun terakhir, gangguan kecemasan dan depresi meningkat sekitar 25 persen secara global, meskipun faktor penyebabnya bersifat multidimensional.

Namun demikian, media sosial bukan satu-satunya penyebab. Yang lebih mendasar adalah pergeseran cara manusia membangun identitas diri. Jika sebelumnya identitas dibentuk melalui pengalaman langsung dan refleksi pribadi, kini ia semakin dipengaruhi oleh respons sosial digital-jumlah likes, komentar, dan validasi publik. Dengan demikian, eksistensi sosial perlahan bergeser menjadi sesuatu yang harus “terlihat” agar dianggap ada.

Di titik ini, FOMO tidak hanya menciptakan kecemasan, tetapi juga mendorong perubahan perilaku sosial. Individu terdorong untuk selalu hadir dalam ruang digital, bukan karena kebutuhan, tetapi karena ketakutan untuk tertinggal dari arus sosial. Fenomena ini menciptakan siklus yang terus berulang: semakin sering terpapar, semakin besar dorongan untuk ikut serta, dan semakin tinggi kecemasan saat tidak terlibat.

Yang sering terabaikan dalam diskusi ini adalah hilangnya ruang jeda dalam kehidupan modern. Sebelum era digital, manusia memiliki waktu lebih panjang untuk memproses pengalaman secara internal. Kini, ruang tersebut digantikan oleh aliran informasi tanpa henti. Akibatnya, kemampuan untuk berhenti sejenak dan memahami diri sendiri menjadi semakin berkurang.

Dalam konteks ini, literasi digital tidak cukup hanya dimaknai sebagai kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan untuk mengelola jarak psikologis dengan teknologi tersebut. Kesadaran bahwa media sosial adalah ruang kurasi, bukan representasi penuh kehidupan, menjadi langkah awal untuk mengurangi dampak FOMO.

Selain itu, pembatasan penggunaan media sosial, pengaturan waktu layar, serta penguatan kesadaran diri (mindfulness) menjadi strategi yang semakin relevan dalam menjaga kesehatan mental. Yang lebih penting lagi adalah mengembalikan fokus pada perkembangan diri sendiri, bukan pada perbandingan sosial yang tidak pernah seimbang sejak awal.

Pada akhirnya, FOMO menunjukkan paradoks masyarakat digital: semakin terhubung seseorang dengan dunia luar, semakin besar pula potensi keterasingan dari dirinya sendiri. Dalam sistem yang menuntut keterlihatan terus-menerus, manusia tidak hanya berkompetisi dalam pencapaian, tetapi juga dalam eksistensi.

Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi sekadar bagaimana cara mengikuti arus digital, tetapi bagaimana cara tetap utuh sebagai diri sendiri di tengah arus yang tidak pernah berhenti menampilkan kehidupan orang lain.