Oleh:
Nazril Ilham, Sarah Maimunah, Faza Falihan Mahdi, Nadya Ulya, Sarah Aulia Rahmah, Gendis Humaida, Muhammad Bashir Abdillah, dan Muhammad Nabil Ubaidillah


Pendahuluan

Partisipasi dan komunikasi merupakan fondasi utama dalam proses pendidikan tinggi. Tanpa keterlibatan aktif mahasiswa, tujuan pembelajaran akan sulit tercapai secara maksimal. Namun, fenomena yang terjadi di lingkungan STAI Al Marhalah Al ‘Ulya menunjukkan bahwa partisipasi dan komunikasi mahasiswa masih tergolong lemah dan perlu mendapat perhatian serius.


Observasi Lapangan

Berdasarkan pengamatan di ruang kelas maupun dalam kegiatan kampus, terlihat bahwa banyak mahasiswa cenderung pasif. Saat proses pembelajaran berlangsung, sebagian besar mahasiswa memilih diam, jarang bertanya, dan kurang terlibat dalam diskusi. Hal serupa juga terjadi pada aktivitas organisasi dan acara kampus, di mana hanya segelintir mahasiswa yang benar-benar aktif, sementara yang lain hadir tanpa banyak kontribusi.


Identifikasi Masalah

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa masih kurang berani mengungkapkan pendapat, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Diskusi berjalan satu arah karena mahasiswa cenderung pasif. Keikutsertaan dalam organisasi kemahasiswaan pun relatif rendah, serta komunikasi antara mahasiswa dan dosen belum terjalin secara terbuka. Banyak mahasiswa merasa lebih aman untuk diam daripada berbicara.


Analisis Penyebab

Beberapa faktor utama yang memengaruhi kondisi ini antara lain kurangnya kepercayaan diri mahasiswa, rasa malu, takut salah, serta belum terbiasanya mahasiswa untuk aktif berkomunikasi. Selain itu, suasana belajar yang terlalu formal dan metode pembelajaran yang kurang melibatkan mahasiswa secara langsung membuat mereka semakin pasif. Minimnya ruang aman untuk menyampaikan pendapat juga menjadi faktor penghambat.


Empat Pendekatan dalam Membaca Persoalan

1. Pendekatan Struktural

Sistem pembelajaran dan organisasi kampus masih cenderung satu arah. Peran dosen lebih dominan, sementara mahasiswa belum diberi ruang yang cukup untuk aktif berdiskusi dan berpendapat. Tidak adanya aturan atau mekanisme yang mendorong keaktifan mahasiswa menyebabkan partisipasi berjalan apa adanya.


2. Pendekatan Kultural

Budaya pasif masih berkembang di kalangan mahasiswa. Rasa malu, takut salah, dan kurang percaya diri menjadi kebiasaan yang menghambat komunikasi. Suasana belajar yang terlalu formal memperkuat kebiasaan diam dan menerima tanpa berani berpendapat.


3. Pendekatan Ekonomi Publik

Keterbatasan fasilitas dan dukungan kampus dalam pengembangan soft skill turut memengaruhi rendahnya partisipasi mahasiswa. Pelatihan komunikasi dan public speaking belum berjalan optimal, sementara sebagian mahasiswa memiliki keterbatasan waktu dan biaya untuk aktif dalam kegiatan kampus.


4. Pendekatan Partisipatif

Mahasiswa belum sepenuhnya dilibatkan dalam kegiatan dan pengambilan keputusan kampus. Kurangnya ruang aspirasi membuat mahasiswa merasa pendapatnya kurang dihargai, sehingga motivasi untuk berpartisipasi menjadi rendah.


Solusi dan Aksi Nyata

Untuk mengatasi persoalan tersebut, diperlukan langkah konkret, antara lain menciptakan suasana belajar yang lebih santai dan interaktif, mendorong metode pembelajaran partisipatif, mengadakan pelatihan komunikasi dan public speaking, menghidupkan kembali organisasi kemahasiswaan sebagai wadah latihan komunikasi, serta memberikan apresiasi kepada mahasiswa yang berani aktif.


Penutup

  • Partisipasi dan komunikasi mahasiswa bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga tanggung jawab seluruh elemen kampus. Dengan perubahan pendekatan pembelajaran, budaya akademik yang lebih terbuka, serta dukungan sistem yang memadai, STAI Al Marhalah Al ‘Ulya dapat melahirkan generasi mahasiswa yang aktif, kritis, dan komunikatif sesuai dengan tujuan pendidikan tinggi.
(nik)