Salwa Putri Maharani


Fenomena mahasiswa yang masuk jurusan Ilmu Perpustakaan karena pilihan kedua bukanlah hal yang asing di dunia pendidikan tinggi. Jurusan ini kerap dijadikan alternatif ketika pilihan utama tidak tercapai, baik karena persaingan yang ketat, keterbatasan nilai, maupun faktor lain. Situasi tersebut membuat sebagian mahasiswa memulai perkuliahan perasaan ragu, bahkan mempertanyakan keputusan akademik yang telah diambil.

Saya sendiri mengambil jurusan Ilmu Perpustakaan tanpa mengetahui secara mendalam apa saja yang akan dipelajari di dalamnya. Keputusan tersebut lebih didorong oleh rasa penasaran karena jurusan ini didengan asing dan jarang dibicarakan pada saat itu, pemahaman saya masih sangat terbatas, sehingga pilihan ini pun diambil tanpa pertimbangan yang benar-benar matang.

Perasaan ragu seperti ini umumnya diperkuat oleh stigma yang berkembang di masyarakat. Ilmu Perpustakaan sering dipandang sebagai jurusan yang hanya berkaitan dengan buku, rak, dan suasana sunyi. Pemahaman awal saya pun tidak jauh berbeda, saya menganggap perpustakaan sebagai bidang yang sederhana. Pandangan tersebut terbentuk bukan dari pengetahuan akademik, melainkan dari persepsi umum yang selama ini beredar.

Padahal, pandangan sempit tersebut berangkat dari kurangnya pemahaman tentang ruang lingkup Ilmu Perpustakaan. Menurut Sulistyo-Basuki dalam buku "Pengantar Ilmu Perpustakaan" bahwa Ilmu Perpustakaan tidak hanya membahas pengetahuan buku, tetapi juga mencakup pengelolaan informasi, layanan kepada pengguna, serta peran masyarakat. Pemahaman ini sering kali baru muncul setelah mahasiswa benar-benar menjalani proses perkuliahan.

Seiring berjalannya waktu dan proses belajar yang dijalani, pandangan saya mulai berubah. Mata kuliah yang membahas literasi informasi, klasifikasi, sistem temu kembali informasi, user experiencehingga layanan perpustakaan menunjukkan bahwa jurusan ini memiliki cakupan keilmuan yang luas. Perpustakaan tidak lagi saya pahami sebagai institusi pasifmelainkan sebagai bagian penting dari sistem informasi yang terus berkembang di era digital.

Pengalaman tersebut juga dirasakan oleh banyak mahasiswa lain yang awalnya masuk Ilmu Perpustakaan sebagai pilihan kedua. Fase bertahan menjadi tahap krusial dalam perjalanan akademik mereka. Tidak sedikit yang menjalani perkuliahan dengan setengah hati pada awalnya, namun perlahan mulai beradaptasi melalui tugas, diskusi, praktik lapangan, serta interaksi dengan dosen dan sesama mahasiswa.

Melalui pengalaman langsung di lapangan, mahasiswa mulai melihat peran nyata perpustakaan dalam kehidupan masyarakat. Perpustakaan berfungsi sebagai penyedia akses informasi, pendukung kegiatan pendidikan, dan ruang belajar bagi berbagai lapisan masyarakat. Dari titik inilah anggapan bahwa Ilmu Perpustakaan adalah jurusan yang pasif dan kurang relevan perlahan mulai runtuh.

Kesadaran akan peran sosial perpustakaan menjadi faktor penting dalam proses menemukan makna. Menurut Lasa Hs dalam buku Manajemen Perpustakaan Sekolah, perpustakaan memiliki fungsi strategis sebagai pusat sumber belajar, pengembangan literasi, dan pembentukan budaya membaca. Pemahaman ini memperlihatkan bahwa Ilmu Perpustakaan memiliki kontribusi langsung terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Bagi mahasiswa yang awalnya masuk karena pilihan kedua, termasuk saya, menemukan makna dalam jurusan ini bukan berarti menghapus rasa kecewa di awal. Sebaliknya, kekecewaan tersebut menjadi bagian dari proses pendewasaan akademik. Melalui proses belajar dan pengalaman, saya menyadari bahwa pandangan awal saya tentang Ilmu Perpustakaan selama ini keliru.

Pada akhirnya, masuk Ilmu Perpustakaan sebagai pilihan kedua bukanlah kegagalan. Ia merupakan bagian dari perjalanan akademik yang mungkin tidak direncanakan, tetapi tetap memiliki potensi untuk bermakna. Dari rasa terpaksa, mahasiswa belajar bertahan, dari proses bertahan, tumbuh pemahaman, dan dari pemahaman tersebut, Ilmu Perpustakaan tidak lagi dipandang sebagai alternatif semata, melainkan sebagai bidang keilmuan yang relevan dan bernilai.